Gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang Myanmar pada Jumat, 28 Maret 2025, menyebabkan kerusakan besar dan menewaskan lebih dari 1.000 orang. Bencana ini semakin memperparah kondisi negara yang telah dilanda konflik berkepanjangan.
Jumlah korban tewas awalnya dilaporkan sebanyak 144 orang, namun angka tersebut melonjak drastis menjadi 1.002 jiwa menurut laporan terbaru pemerintah militer Myanmar. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat, dengan prediksi dari USGS yang memperkirakan jumlah korban tewas bisa mencapai lebih dari 10.000 jiwa. Kerugian ekonomi juga diperkirakan akan sangat besar, melampaui total output tahunan negara tersebut.
Gempa bumi tersebut juga menimbulkan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Jalan, jembatan, dan bangunan mengalami kerusakan berat, menghambat upaya penyelamatan dan pemulihan. Bahkan beberapa rumah sakit, termasuk rumah sakit di Naypyitaw dengan kapasitas 1.000 tempat tidur, mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.
Tanggapan Internasional dan Upaya Penyelamatan
Junta militer Myanmar, yang biasanya enggan meminta bantuan internasional, akhirnya mengeluarkan seruan global untuk bantuan. Hal ini menandai sebuah langkah yang tidak biasa mengingat relasi Myanmar dengan negara-negara lain. Respon internasional pun mengalir deras, dengan berbagai negara mengirimkan tim penyelamat dan bantuan kemanusiaan.
Tim penyelamat dari berbagai negara, termasuk China, Rusia, India, Malaysia, dan Singapura, telah tiba di Myanmar untuk membantu operasi pencarian dan penyelamatan. Korea Selatan juga menjanjikan bantuan kemanusiaan awal sebesar 2 juta dolar AS. Amerika Serikat, meskipun memiliki hubungan yang tegang dengan junta, juga menyatakan akan memberikan bantuan.
Di Yangon, ibu kota komersial Myanmar, tim penyelamat internasional berfokus pada upaya pencarian dan penyelamatan korban yang terjebak di bawah reruntuhan. Upaya ini menghadapi tantangan yang signifikan, termasuk minimnya alat berat dan akses yang sulit ke daerah terdampak.
Dampak Gempa di Mandalay dan Kesaksian Korban
Kota Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, merupakan salah satu wilayah yang paling parah terdampak gempa. Petugas penyelamat dan warga berjuang melawan waktu untuk mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan, namun kesulitan dalam hal peralatan dan logistik.
Htet Min Oo (25 tahun), salah satu korban selamat, menggambarkan kepanikan dan penderitaan yang dialaminya saat berusaha menyelamatkan keluarganya. Ia mengungkapkan rasa putus asa karena ketidakpastian nasib keluarganya yang masih tertimbun di bawah reruntuhan.
Minimnya peralatan berat dan akses yang terbatas ke lokasi-lokasi terdampak membuat upaya penyelamatan menjadi sangat sulit. Banyak korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan, menambah keprihatinan akan meningkatnya jumlah korban jiwa.
Operasi Penyelamatan di Bangkok, Thailand
Gempa bumi juga terasa hingga ke Thailand, menyebabkan kerusakan bangunan dan menewaskan sedikitnya sembilan orang di Bangkok. Setidaknya 30 orang terjebak di bawah reruntuhan gedung pencakar langit yang sedang dibangun, dan 49 lainnya masih dinyatakan hilang.
Otoritas Bangkok mengerahkan berbagai sumber daya, termasuk ekskavator, drone, dan anjing pelacak, untuk menemukan dan menyelamatkan para pekerja konstruksi yang terjebak. Gubernur Bangkok, Chadchart Sittipunt, menyatakan komitmen penuh untuk menyelamatkan nyawa para korban.
Banyak warga Bangkok menghabiskan malam di taman kota karena takut akan gempa susulan. Meskipun situasi perlahan membaik pada pagi harinya, kekhawatiran dan kepanikan masih terasa di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang kehilangan orang-orang tercinta.
Analisis dan Pertimbangan Ke Depan
Gempa bumi di Myanmar bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga menyoroti kerentanan infrastruktur dan sistem tanggap darurat di negara tersebut, khususnya mengingat situasi politik yang tidak stabil. Upaya rekonstruksi dan rehabilitasi akan membutuhkan waktu dan sumber daya yang sangat besar.
Selain bantuan langsung, dukungan jangka panjang untuk pemulihan ekonomi dan sosial Myanmar sangat penting. Hal ini membutuhkan kerjasama internasional yang kuat dan komitmen jangka panjang dari berbagai pihak untuk membantu Myanmar bangkit dari bencana ini.
Kejadian ini juga menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam. Investasi dalam infrastruktur tahan gempa dan sistem peringatan dini sangat krusial untuk meminimalkan dampak bencana di masa mendatang, tidak hanya di Myanmar, tetapi juga di negara-negara lain yang rawan gempa.